Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Mei 2012

SEJARAH WONG SAMIN

SEJARAH SAMIN


GEGER SAMIN
Samin Surosentiko lahir pada tahun 1859, di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Ayahnya bernama Raden Surowijaya atau lebih dikenal dengan Samin Sepuh. Nama Samin Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar . Nama ini kemudian dirubah menjadi Samin, yaitu sebuah nama yang bernafas kerakyatan. Samin Surosentiko masih mempunyai pertalian darah dengan Kyai Keti di Rajegwesi, Bojonegoro dan juga masih bertalian darah dengan Pengeran Kusumoningayu yang berkuasa di daerah Kabupaten Sumoroto ( kini menjadi daerah kecil di Kabupaten Tulungagung) pada tahun 1802-1826.
Pada tahun 1890 Samin Surosentiko mulai mengmbangkan ajarannya di daerah Klopoduwur, Blora. Banyak penduduk di desa sekitar yang tertarik dengan ajarannya, sehingga dalam waktu singkat sudah banyak masyarakat yang menjadi pengikutnya. Pada saat itu pemerintah Kolonial Belanda belum tertarik dengan ajarannya, karena dianggap sebagai ajaran kebatinan biasa atau agama baru yang tidak membahayakan keberadaan pemerintah kolonial. Pada tahun 1903 Residen Rembang melaporkan bahwa ada sejumlah 722 orang pengikut samin yang tersebar di 34 Desa di Blora bagian selatan dan daerah Bojonegoro. Mereka giat mengembangkan ajaran Samin. Sehingga sampai tahun 1907 orang Samin berjumlah + 5.000 orang. Pemerintah Kolonial Belanda mulai merasa was-was sehingga banyak pengikut Samin yang ditangkap dan dipenjarakan.
Dan pada tanggal 8 Nopember 1907, Samin Surosentiko diangkat oleh pengikutnya sebagai RATU ADIL,dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam. Kemudian selang 40 hari sesudah peristiwa itu, Samin Surosentiko ditangkap oleh radenPranolo, yatu asisten Wedana Randublatung. Setelah ditangkap Samin beserta delapan pengikutnya lalu dibuang ke luar Jawa, dan berliau meninggal di luar jawa pada tahun 1914. Tahun 1908, Penangkapan Samin Surosentiko tidak memadamkan pergerakan Samin. Wongsorejo, salah satu pengikut Samin menyebarkan ajarannya didistrik Jawa, Madiun. Di sini orang-orang Desa dihasut untuk tidak membayar Pajak kepada Pemerintah Kolonial. Akan tetapi Wongsorejo dengan baberapa pengikutnya ditangkap dan dibuang keluar Jawa.
Tahun 1911 Surohidin, menantu Samin Surosentiko dan Engkrak salah satu pengikutnya menyebarkan ajaran Samin di daerah Grobogan, sedangkan Karsiyah menyebarkan ajaran Samin ke Kajen, Pati. Tahun 1912, pengikut Samin mencoba menyebarkan ajarannya di daerah Jatirogo, Kabupaten Tuban, tetapi mengalami kegagalan. Tahun 1914, merupakan puncak Geger Samin. Hal ini disebabkan karena Pemerintah Kolonial belanda menaikkan Pajak, bahkan di daerah Purwodadi orang-orang Samin sudah tidak lagi menghormati Pamong Desa dan Polisi, demikian juga di Distrik Balerejo, Madiun.
Di Kajen Pati, Karsiyah tampil sebagai Pangeran Sendang Janur, menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membayar pajak. Di Desa Larangan, Pati orang-orang Samin juga menyerang aparat desa dan Polisi Di Desa Tapelan, Bojonegoro juga terjadi perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu dengan tidak mau membayar pajak. Tahun 1930, perlawanan Samin terhadap pemerintah Kolonial terhenti, hal ini disebabkan karena tidak ada figur pimpinan yang tanggguh
Dalam naskah tulisan tangan yang diketemukan di Desa Tapelan yang berjudul Serat Punjer Kawitan, disebut-sebut juga kaitan Samin Surosentiko dengan Adipati Sumoroto Dari data yang ditemukan dalam Serat Punjer Kawitan dapat disimpulkan bahwa Samin Surosentiko yang waktu kecilnya bernama Raden Kohar , adalah seorang Pangeran atau Bangsawan yang menyamar dikalangan rakyat pedesaan. Dia ingin menghimpun kekuatan rakyat untuk melawan Pemerintah Kolonial Belanda dengan cara lain
AJARAN KEBATINAN

Menurut warga Samin di Desa Tapelan, Samin Surosentiko dapat menulis dan membaca aksara Jawa, hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa buku peninggalan Samin Surosentiko yang diketemukan di Desa Tapelan dan beberapa desa samin lainnya. Khusus di Desa Tapelan buku-bukun peninggalan Samin Surosentiko disebut SERAT JAMUSKALIMOSODO, serat Jamuskalimosodo ini ada beberapa buku.
Di antaranya adalah buku Serat Uri-uri Pambudi, yaitu buku tentang pemeliharaan tingkah laku manusia yang berbudi. Ajaran kebatinan Samin surosentiko adalah perihal ? manunggaling kawulo Gusti atau sangkan paraning dumadi ?. Menurut Samin Surosentiko , perihal manunggaling kawulo Gusti itu dapat diibaratkan sebagai ? rangka umanjing curiga ?( tempat keris yang meresap masuk ke dalam kerisnya ).
Dalam buku Serat Uri-uri Pambudi diterangkan sebagai berikut : ?Tempat keris yang meresap masuk dalam kerisnya mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an. Hal ini menunjukkan pamor (pencampuran) antara mahkluk dan Khaliknya yang benar-benar sejati. Bila mahkluk musnah, yang ada hanyalah Tuhan (Khalik). Senjata tajam merupakan ibarat campuran yang menunjukkan bahwa seperti itulah yang disebut campuran mahkluk dan Khaliknya. Sebenarnya yang dinamakan hidup hanyalah terhalang oleh adanya badan atau tubuh kita sendiri yang terdiri dari darah, daging dan tulang. Hidup kita ini, yang menghidupinya adalah yang sama-sama menjadi pancer (pokok) kita. Hidup yang sejati itu adalah hidup yang menghidupi segala hal yang ada di semesta alam.?
Di tempat lain Samin Surosentiko menjelaskan lagi sebagai berikut : ? Yang dinamakan sifat Wisesa (penguasa utama/luhur) yang bertindak sebagai wakil Allah, yaitu ingsun (aku, saya), yang membikin rumah besar, yang merupakan dinding (tirai) yaitu badan atau tubuh kita (yaitu yang merupakan realisasi kehadirannya ingsun). Yang bersujud adalah mahkluk, sedang yang disujudi adalah Khalik, (Allah, Tuhan). Hal ini sebenarnya hanya terdindingi oleh sifat. Maksudnya, hudip mandiri itu sebenarnya telah berkumpul menjadi satu antara mahkluk dan Khaliknya.? Selanjutnya menurut Samin Surosentiko, yang bertindak mencari sandang pangan kita sehari-hari adalah ? Saderek gangsal kalima pancer? adapun jiwa kita diibaratkan oleh Samin sebagai mandor. Seorag mandor harus mengawasi kuli-kulinya. Atau lebih jelasnya dikatakan sebagai berikut: ? Gajah Seno saudara Wrekodara yang berwujud gajah. Jelasnya saudara yang berjumlah lima itu mengibaratkan ilmu ke-Tuhan-an.
Hal ini perlu dicapai (yaitu tiga saudara, empat dan lima pokoknya). Adapun yang bekerja mencari sandang pangan setiap hari itu adalah saudara kita berlima itu. Adapun jiwa (sukma) kita bertindak sebagai mandor. Itulah sebabnya mandor harus berpegang teguh pada kekuasaan yang berada ditangannya untuk mengatur anak buahnya, agar semuanya selamat. Sebaliknya apabila anak buahnya tadi betindak salah dan tindakan tersebut dibiarkan saja, maka lama kelamaan mereka kian berbuat seenaknya.
Hal ini akan mengakibatkan penderitaan. Pengandaian jiwa sebagai mandhor dan sedulur papat kalima pancer sebagai kuli-kuli tersebut diatas adalah sangat menarik. Kata-kata ini erat hubungannya dengan kerja paksa/kerja rodi di hutan-hutan jati di daerah Blora dan sekitarnya. Pekerja rodi terdiri dari mandor dan kuli. Mandhor berfungsi sebagai pengawas, sedangkan kuli berfungsi sebagai pekerja.
Pemakaian kata yang sederhana tersebut oleh Samin Surosentiko dikandung maksud agar ajarannya dapat dimengerti oleh murid-muridnya yang umumnya adalah orang desa yang terkena kerja paksa. Menurut Samin Surosentiko, tugas manusia di dunia adalah sebagai utusan Tuhan. Jadi apa yang dialami oleh manusia di dunia adalah kehendak Tuhan.
Oleh karena itu sedih dan gembira, sehat dan sakit, bahagia dan sedih, harus diterima sebagai hal yang wajar. Hal tersebut bisa dilihat pada ajarannya yang berbunyi : ? ..Menurut perjanjian, manusia adalah pesuruh Tuhan di dunia untuk menambah kendahan jagad raya. Dalam hubungan ini masyarakat harus menyadari bahwa mereka hanyalah sekedar melaksanakan perintah. Oleh karena itu apabila manusia mengalami kebahagiaan dan kecelakaan, sedih dan gembira, sehat dan sakit, semuanya harus diterima tanpa keluhan, sebab manusia terikat dengan perjanjiannya.
Yang terpenting adalah manusia hidup di dunia ini harus mematuhi hukum Tuhan, yaitu memahami pada asal-usulnya masing-masing?.? Samin Surosentiko juga mengajarkan pengikutnya untuk berbuat kebajikan, kejujuran dan kesabaran. Murid-muridnya dilarang mempunyai rasa dendam. Adapun ajaran selengkapnya sebagai berikut: ? ?Arah tujuannya agar dapat berbuat baik dengan niat yang sungguh-sungguh, sehingga tidak ragu-ragu lagi. Tekad jangan sampai goyah oleh sembarang godaan, serta harus menjalankan kesabaran lahir dan batin, sehingga bagaikan mati dalam hidup. Segala tindak-tanduk yang terlahir haruslah dapat menerima segala cobaan yang datang padanya, walaupun terserang sakit, hidupnya mengalami kesulitan, tidak disenangi orang, dijelek-jelekkan orang, semuanya harus diterima tanpa gerutuan, apalagi sampai membalas berbuat jahat, melainkan orang harus selalu ingat pada Tuhan?,?
Ajaran di atas dalam tradisi lisan di desa Tapelan dikenal sebagai ? angger-angger pratikel? (hukum tindak tanduk), ? angger-angger pengucap ? (hukum berbicara), serta ? angger-angger lakonana? (hukum perihal apa saja yang perlu dijalankan). Hukum yang pertama berbunyi ?Aja dengki srei, tukar padu, dahpen kemeren, aja kutil jumput, mbedog colong.? Maksudnya, warga samin dilarang berhati jahat, berperang mulut, iri hati pada orang lain, dan dilarang mengambil milik orang. Hukum ke dua berbunyi ? Pangucap saka lima bundhelane ana pitu lan pengucap saka sanga budhelane ana pitu.? Maksud hukum ini , orang berbicara harus meletakkan pembicaraannya diantara angka lima, tujuh dan sembilan. Angka-angka tersebut hanyalah simbolik belaka. Jelasnya, kita harus memelihara mulut kita dari segala kata-kata yang tidak senonoh atau kata-kata yang menyakitkan orang lain. Kata-kata yang tidak senonoh dan dapat menyakitkan orang lain dapat mengakibatkan hidup manusia ini tidak sempurna. Adapun hukum yang ke tiga berbunyi ? Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokale dilakoni.? Maksudnya, warga Samin senantiasa diharap ingat pada kesabaran dan berbuat ? bagaikan orang mati dalam hidup ? Menurut Samin Surosentiko, semua ajaran diatas dapat berjalan denganbaik asalkan orang yang menerima mau melatih diri dalam hal samadi. Ajaran ini tertuang dalam Serat Uri-uri Pambudi yang berbunyi sebagai berikut : ??Adapun batinnya agar dapat mengetahui benar-benar akan perihal peristiwa kematiannya, yaitu dengan cara samadi, berlatih ?mati? senyampang masih hidup (mencicipi mati) sehingga dapat menanggulangi segala godaan yang menghalang-halangi perjalanannya bersatu dengan Tuhan, agar upaya kukuh, dapat terwujud, dan terhindar dari bencana.?
 Selanjutnya menurut Samin Surosentiko, setelah manusia meninggal diharapkan roh manusia yang meninggal tadi tidak menitis ke dunia, baik sebagai binatang( bagi manusia yang banyak dosa) atau sebagai manusia (bagi manusia yang tidak banyak dosa), tapi bersatu kembali dengan Tuhannya. Hal ini diterangkan Samin Surosentiko dengan contoh-contoh yang sulit dimengerti orang apabila yang bersangkutan tak banyak membaca buku-buku kebatinan. Demikian kata Samin Surosentiko : ? ?
Teka-teki ini menunjukkan bahwa jarak dari betal makmur ke betal mukaram sejengkal, dan dari betal mukaram ke betal mukadas juga sejengkal. Jadi triloka itu jaraknya berjumlah tiga jengkal. Kelak apabila manusia meninggal dunia supaya diusahakan tidak terkuasai oleh triloka. Hal ini seperti ajaran Pendeta Jamadagni. Tekad pendeta Jamadagni yang ingin meninggalkan dunia tanpa terikat oleh triloka itu diceritakan oleh Serat Rama. Pada awalnya ingin menitis pada bayi yang lahir (lahir kembali kedunia).
Oleh karena itulah pada waktu meninggal dunia dia berusaha tidak salah jalan, yaitu kembali ke rahim wanita lagi. (jangan sampai menitis kembali pada bayi, lahir kembali ke dunia).? Dari keterangan diatas dapatlah diketahiu bahwa Samin Surosentiko tidak menganut faham ?Penitisan? tapi menganut faham ? manunggaling kawulo Gusti? atau ?sangkan paraning dumadi?. Dari ajaran-ajaran tertulis di atas jelas kiranya bahwa Samin Surosentiko adalah seorang ?theis?. Keparcayaan pada Tuhan, yang disebutnya dengan istilah-istilah Gusti, Pangeran, Allah, Gusti Allah, sangatlah kuat, hal ini bisa dilihat pada ajarannya : ? Adapun Tuhan itu ada, jelasnya ada empat. Batas dunia disebelah utara, selatan, timur, dan barat. Keempatnya menjadi bukti bahwa Tuhan itu ada (adanya semesta alam dan isinya itu juga merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada?.?
Demikianlah cuplikan ajaran Samin Surosentiko yang berasal dari Serat Uri-uri Pambudi. Selanjutnya akan dijelaskan ajaran Samin Surosentiko yang terdapat dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten. Buku ini maknanya pengukuhan kehidupan yang sejati. Ajaran dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten ditulis dalam bentuk puisi tembang, yaitu suatu genre puisi tradisional kesusasteraan Jawa.
Disini yang akan dikutip adalah sebuah tembang Pangkur yang mengandung ajaran perihal Perkawainan. Adapun tembang Pangkur yang dimaksud seperti dibawah ini : ? Saha malih dadya garan, anggegulang gelunganing pembudi, palakrama nguwoh mangun, memangun traping widya, kasampar kasandhung dugi prayogantuk, ambudya atmaja tama, mugi-mugu dadi kanthi.? Menurut Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan itu merupakan alat untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan ?Atmaja Tama? (anak yang mulia).
Dalam ajaran Samin , dalam perkawinan seorang temanten laki-laki diharuskan mengucapkan syahadat, yang berbunyi kurang lebih demikian : ? Sejak Nabi Adam pekerjaan saya memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama?? Saya berjanji setia kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.? Demikian beberapa ajaran kepercayaan yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang sampai sekarang masih dipatuhi warga samin.
(kapethik saking situs Kab. Blora)

Selasa, 10 Januari 2012

folklore DONGENG WALI


SUNAN AMPEL
Asal-usul
            Raden Rahmatullah (sunan Ampel) lahir di negeri Cempa pada tahun 1401 M. Putra dari seorang ibu yang bernama Dewi Candra Wulan adalah putri raja Cempa. Adapun ayahnya yang bernama Ibrahim Al-Ghozi, seorang ulama besar dari Samargandi dekat Bukhara sebuah daerah letaknya di Rusia Selatan, yang bernama Syekh Jamalludin Jumadil Kubra. Seorang ahlussunnah bermahzab syafi’i, beliau mempunyai seorang putra bernama Ibrahim. Karena berasal dari Samargandi maka Ibrahim kemudian mendapat tambahan Samargandi, orang jawa sangat sukar mengucapkan Samargandi maka mereka hanya menyebutkan sebagai Syekh Ibrahim Asmarakandi.
            Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalludin Jumadil Kubra untuk berdakwah ke Negara-negara Asia. Perintah ini dilaksanakan dan beliau kemudian diambil menantu oleh raja Cempa dijodohkan dengan putrid raja Cempa yang bernama Dewi Candra Wulan.
            Negeri Cempa ini menurut sebagai ahli sejarah terletak di Muangthai. Dari perkawinan dengan Dewi Candra Wulan maka Ibrahim Asmarakandi mendapat dua orang putra yaitu Sayyit Ali Rahmatullah dan Sayyit Ali Murtadho sedangkan adik Dewi Candra Wulan yang bernama Dewi Dwarawati diperistri oleh Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian keduanya adalah keponakan ratu Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan.
            Raja Majapahit sangat senang mandapat istri dari negeri Cempa yang wajah dan kepribadiannya sangat memikat hati, sehingga istri-istri lainnya diceraikan. Banyak yang diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh nusantara. Salah satu contoh adalah istri yang bernama Dewi Kian seorang putri Cina yang diberikan kepada adipati Ario Damor di Palembang.
            Ketika Dewi Kian diceraikan dan diberikan kepada Ario Damar, saat itu sedang hamil tiga bulan. Ario Damor tidak diperkenankan menggauli putrid Cina itu sampai si jabang lahir ke dunia. Bayi dari rahim Dewi Kian itulah yang nantinya bernama Raden Hasan atau lebih dikenal dengan Raden Patah, salah seorang murid sunan Ampel yang menjadi raja di Demak Bintoro.
Kerajaan Majapahit sesudah ditinggal mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadi perang saudara dan para adipati banyak yang tidak loyal lagi kepada keturunan Prabu Hayam Wuruk yaitu Prabu Brawijaya Kertha Bumi. Pajak dan upeti kerajaan banyak yang sampai ke istana Majapahit.

Ke Tanah Jawa
            Maka pada suatu hari diberangkatkan utusan dari Majapahit ke negeri Cempa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit. Kedatangan utusan Majapahit disambut genbira oleh raja Cempa. Dan raja Cempatidak keberatan melepas cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalaman.
            Keberangkatan Sayyid Ali Rahmatullah ke tanah jawa tidak sendirian. Ia ditemani oleh ayah dan kakaknya sebagaimana disebutkan di atas, ayah Sayyid Rahmatullah adalah Syekh Mulana Ibrahim Asmarakandi dan kakaknya bernama Sayyid Ali Murtadho. Di duga mereka tidak langsung ke Majapahit melainkan mendarat di Tuban. Tetapi di Tuban tepatnya di desa Gesik Harjo, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia. Beliau dimakamkan didesa tersebut yang masih termahsyuk kecamatan Palang kabupaten Tuban.
            Sayyid Murtadho kemudian meneruskan perjalanan. Beliau berdakwah keliling ke daerah Nusa Tenggara, Madura dan sampai ke Bima. Di sana beliau mendapat sebutan Raja Pandita Bima dan akhirnya berdakwah di Gresik mendapat sebutan Raden Santri. Beliau wafat dan dimakamkan di Gresik. Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan ratu Dwarawati.
            Kapal layar yang ditumpanginya cang’u. Kedatangannya disambut dengan suka cita oleh Prabu Kertabumi, lebih lagi Ratu Dwarawati bibinya sendiri. Wanita itu memeluknya erat-erat seolah sedang memeluk kakak perempuannya yang berada di istana kerajaan Cempa. Wajah keponakannya itu memang mirip dengan kakak perempuannya.
            “Nanda Rahmatullah, bersediakah engkau memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan dan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerti mulia?” Tanya sang Prabu setelah Sayyid Rahmatullah beristirahat melepas lelah. Dengan sikapnya yamg sopan tutur “saya berusaha sekuat-kuatnya untuk mencurahkan kemampuan saya mendidik mereka”.
            “Bagus !” sahut sang Ratu. “bila demikian kau akan ku beri hadiah sebidang tanah berikut bangunannya di Surabaya, disanalah kau akan mendidik para bangsawan dan pangeran Majapahit agar berbudi pekerti mulia”.
            “Terima kasih saya aturkan Gusti Prabu ”. jawab Sayyid Ali Rahmatullah. Disebutkan dalam literature bahwa selanjutnya Sayyid Ali Rahmatullah menetap beberapa hari di Istana Majapahit dan dijodohkan dengan salah satu putri Majapahit Nyai Ageng Manila. Dengan demikian Sayyid Ali Rahmatullah adalah seorang pangeran Majapahit, karena dia adalah menantu raja Majapahit. Para pangeran pada jaman dulu di tandai dengan nama depan raden tuanku. Selanjutnya dikenal dengan sebutan Raden Rahmad.

Ampel Denta
            Selanjutnya, pada hari yang telah ditentukan berangkatlah rombongan Raden ke sebuah daerah di Surabaya yang kemudian disebut Ampel Denta.
            Rombongan itu melalui desa Krian Wonokromo terus memasuki Kembang Kuning. Selama dalam perjalanan beliau juga berdakwah kepada penduduk setempat yang dilaluinya. Dakwah yang pertama kali dilakukannya cukup unik. Beliau membentuk kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu dan anyaman rotan. Kipas-kipas itu dibagi-bagikan kepada penduduk setempat secara gratis, para penduduk hanya cukup menukarnya dengan kalimat syahadat.
            Penduduk yang menerima kipas itu merasa sangat senang, terlebih setelah mereka mengetahui kipas-kipas itu bukan sembarangan. Kipas akar yang dianyam bersama rotan itu ternyata berdaya penyembuh bagi mereka yang terkena penyakit batuka dan demam. Dengan cara itu semakin banyak orang yang berdatangan kepada Raden Rahmat. Saat demikianlah ia memperkenalkan kendahan Islam sesuai tingkat pemahaman mereka.
            Cara itu terus dilakukan hingga rombongan memasuki desa Kembang Kuning. Pada saat itu wilayah desa Kembang Kuning belum seluas sekarang ini, di sana sini masih banyak hutan dan mendirikan tempat sembahyang sederhana atau langgar. Tempat tersebut sekarang telah diubah menjadi masjid Rahmat Kembang Kuning.
            Ditempat itu pula Raden Rahmat bertemu dan berkenalan dengan dua tokoh masyarakat yaitu Ki Wiryo Sarojo dan Kibang Kuning. Kedua tokoh masyarakat itu bersama keluarganya masuk Islam dan menjadi pengikut Raden Rahmat.
            Dengan adanya kedua tokoh masyarakat itu maka semakin mudah bagi Raden Rahmat untuk mengadakan pendekatan kepada masyarakat sekitarnya, terutama kepada masyarakat yang masih memegang teguh adat kepercayaan lama. Beliau tidak langsung melarang mereka, melainkan memberikan sedikit demi sedikit tentang pentingnya ajaran tauhid. Dan jika mereka sudah mengenal tauhid atau keimanan kepada Tuhan pencipta alam, maka secara otomatis mereka akan meninggalkan sendiri kepercayaan lama yang bertentangan dengan ajaran Islam.
            Setelah sampai di tempat tujuan, pertama kali yang dilakukannya yaitu mambangun masjid sebagai pusat kegiatan ibadah. Ini meneladani yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW saat pertama kali sampai di Madinah.
            Dan karena beliau menetap di desa Ampel Denta menjadi penguasa daerah tersebut maka kemudian beliau dikenal sebagai Sunan Ampel. Selanjutnya beliau mendirikan pesantren tempat mendidik putra bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa saja yang mau datang berguru kepada beliau.

Keturunan Sunan Ampel
            Raden Rahmat yang tinggal di Ampel Denta itu semakin lama semakin bertambah. Harum namanya di kalangan masyarakat maupun bangsawan pembesar-pembesar kerajaan dengan sebutan Sunan Ampel.
            Pada suatu ketika Rade Rahmat akan mengambil air wudlu tiba-tiba di sungai itu nampak buah delima terapung-apung di permukaan air. Tanpa berpikir diambillah delima itu.
            Rupanya syaiton telah melupakannya sehabis mendirikan sholat buah delimaitu dimakannnya. Tetapi setelah tinggal separuh barulah beliau teringat dan menyesal karena telah terlanjur memakan delima yang belum mendapat ijin dari pemiliknya.
            Karena itu beliau menyusuri tepian sungai mencari siapa orang yang empunya untuk diminta kerelaan hatinya. Di suatu tempat di tepian sungai itu bertemu Ki Ageng Supa (Sunan Bungkul) yang baru saja datang dari hulu sungai.
            Setelah keduanya bercakap-cakap ternyata buah delima itu milik Ki Ageng Supa yang sedang dicari-carinya. Maka Raden Rahmat pun meminta maaf dan agar Ki Ageng Supa mau menghalalkan buah delima yang telah terlanjur dimakannya itu.
            Tetapi Ki Ageng Supa tidak mau memaafkan dan menghalalkan dikatakan bahwa karena buah delima itu adalah milik putrinya yang sekarang sedang menangisi hilangnya buah delima tersebut.
            Raden Rahmat merasa sedih sekali karena beliau selalu teringat sabda Nabi Muhammad SAW yang mengatakan : “tidak akan masuk surga darah dan daging seseorang yang terjadi dari makanan haram.”
            Sesaat kemudian Raden Rahmat mengatakan akan kesanggupannya mencarikan buah delima yang lebih besar dan bagus daripada itu sebagai gantinya. Walaupun demikian Ki Ageng Supa pun tetap tidak akan memafkan karena buah delima yang dimakan Raden Rahmat itu adalah buah delima kesayangan putrinya.
            “Kemudian bagaimana maksud Ki Ageng?” Tanya Raden Rahmat penuh keheranan. Dalam hati Raden Rahmat berkata kanapa tiba-tiba saja Ki Ageng Supa bersikap demikian kepadaku? Hanya soal buah delima saja ia tidak mau memaafkan padahal Ki Ageng Supa adalah termasuk muridnya.
            Akhirnya Ki Ageng Supa (Sunan Bungkul) mengatakan mau memaafkan dengan syarat Raden Rahmat asal saja bersedia menjadi suami anaknya yang kehilangan buah delima itu namanya Siti Karimah seorang anak gadis yang tuli, bisu dan lumpuh.
            Setelah mendengar ucapan Ki Ageng Supa Raden Rahmat terkejut kenapa sampai menjadi demikian permasalahannya. Hanya soal buah delima satu saja harus menikah dengan seorang gadis yang tuli, bisu dan lumpuh itu. Raden Rahmat teringat akan sabda Nabi Muhammad SAW yang telah kami sebutkan tadi. Akhirnya beliaupun menyerah kepada Ki Ageng Supa. Ki Ageng Supa hatinya merasa lega, maka diajaklah Raden Rahmat ke rumahnya dan diperlihatkan Siti Karimah.

Ajaran Raden Rohmat
            Selanjutnya karena beliau menetap di Desa Ampel Denta dan menjadi penguasadi daerah tersebut, maka beliau dikenal sebagai Sunan Ampel, yang artinya sesuhunan / panutan masyarakat. Semakin lam bertambah banyak orang yang berguru kepada beliau, bukan hanya dari kalangan bangsawan Majapahit saja, bahkan dari masyarakat juga tidak kalah banyaknya.
            Adapun hasil didikan beliau yang terkenal adalah falsafah Molimo. Yang artinya Mo adalah ora gelem (tidak mau) dan limo artinya perkara lima (5). Jadi maksud dari kata-kata molimo ialah tidak mau melakukan lima perkara yang terlarang, yaitu:
1). Emoh main atau tidak mau judi.
2) Emoh ngombe  atau tidak mau minum minuman yang memabukkan,
3) Emoh madat atau tidak mau minum atau menghisap candu atau ganja,
4) Emoh madon atau tidak mau berzina atau main perempuan yang bukan istrinya.
5) Emoh maling atau tidak mau mencuri.
            Setelah nampak hasil didikan Raden Rahmat, Prabu Brawijaya merasa sangat gembira sekali. Ia pun sangat bangga mempunyai menantu seperti Raden Rahmad itu, karena dapat membantu memperbaiki budi pekerti para Putra Bangsawan, dan para Adipati atau para kawula, sehingga keadaan Majapahit menjadi tenang kembali.
            Sebenarnya Prabu Brawijaya menyukai ajaran itu. Dalam hati dan pikiran, Islam adalah agama yang baik dan agama yang mempunyai didikan budi pekerti yang luhur.
Maka dari itu, ketika Raden Rahmad mengumumkan bahwa itu adalah agama islam, sang Prabupun tidak marah, namun saja ketika Raden Rahmad mengajaknya masuk Islam, sang Prabu tidak mau, dan mengatakan sangat berat rasanya untuk meninggalkan agama Budha yang sudah mendarah daging pada dirinya.
            Walaupun demikian, sang Prabu tetap memberi kebebasan kepada menantunya (Raden Rahmad) untuk mensyiarkan agama Islam kepada siapa saja, tetapi syarat bagi mereka yang tidak berkenan jangan dipaksa. Raden Rahmad mengatakan kepada Raja bahwa beliau tidak mengislamkan manusia, tetapi hanya sekedar menyampaikan Islam kepada manusia. Maka apa yang dipersyaratkan raja sesuai dengan yang diajarkan Islam yaitu manusia bebas memilih agama yang cocok untuk manusia itu sendiri. Karena itu Al Quran menyebutkan: “tidak ada paksaan di dalam memilih agama.”
            Setelah Syeikh Maulana Malik Ibrahim wafat, sebagai mufti atau pemimpin imam setanah Jawa yakni menjadi sepenuh wali sanga digantikan kepada Sunan Ampel.
            Dibangunnya Masjid Agung Demak yang berdiri pada tahun 1677 M itupun Sunan Ampel juga ikut serta berperan dalam perancangan proyek pembangunannya. Hal ini  terbukti sampai sekarangbisa kita saksikan pada salah satu diantara empat tiang utam masjid itu diberi nama sesuai dengan pendirinya ialah Sunan Ampel. Dan masjid itu bagus sekali.

Penyelamat Aqidah
Sikap Sunan Ampel terhadap adat istiadat lama sangat hati-hati. Hal ini didukung oleh Sunan Giri dan Sunan Drajat seperti yang pernah tersebut permusaywatan para wali di Masjid Agung Demak. Pada waktu itu Sunan Kali Jaga mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman. Mendengar pendapat Sunan Kalijaga tersebut bertanyalah Sunan Ampel “Apakah tidak mengkhawatirkan di kemudian hari bahwa adat istiadat dalam upacara itu nanti dianggap sebagai aturan yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?”.
Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampel “Saya setuju dengan pendapat Sunan Klijaga bahwa adat istiadat lama yang masih bias diarahkan kepada agama tauhid maka kita akan memberinya warna islami, sedang adat dan kepercayaan yang jelas-jelas menyuruh ke arah kemusyrikan kita tinggal sama sekali, misal gamelan dan wayang kulit kita bisa memberinya warna islami sesuai  dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekhawatiran kanjeng Sunan Ampel saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada orang yang menyempurnakan”.
Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya hikmah pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus sebenarnya yaitu agar agama Islam cepat diterima oleh orang Jawa dan ini terbukti dikarenakan dua wali tersebut pandai mengawinkan adat-istiadat lama yang dapat di tolelir Islam maka penduduk Jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam. Pada peinsipnya mereka menerima Islam lebih dahulu dan sedikit demi sedikit mereka akan diberi pengertian tentang kebersihan tauhid dalam iman mereka.
Setidaknya adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah benar yang hakiki, sehingga membuat umat semakin barhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah. Inilah jasa Sunan Ampel yang sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelamatkan aqidah ummat agar tidak tergelincir ke lembah musyrik.
Beliau pula yang pertama kali menciptakan huruf pegon atau tulisan arab berbunyi bahasa jawa. Dengan huruf pegon ini beliau dapat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya, hingga sekarang huruf pegon tetap dipakai sebagai bahan pelajaran agama Islam di kalangan pesantren.
Beberapa murid dan putra Sunan Ampel sendiri juga menjadi anggota wali sanga. Mereka adalah : Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kota atau Raden Patah, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati. Mereka memperjuangkan agama Islam sangatlah kuat dan sabar.
Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M, beliau dimakamkan di barat masjid.

Murid Sunan Ampel (Mbah Shalih dan Mbah Son Haji)
            Diantara murid-murid Sunan Ampel hanyalah Mbah Shalih yang punya peristiwa misteri yang terkenal, mengalami mati sampai sembilan kali sehingga kuburannya pun sembilan juga banyaknya.
            Menurut riwayat Mbah Shalih, salah seorang murid Sunan Ampel merangkap menjadi tukang sapu masjid di masa Sunan Ampel. Hasil kerjanya memang memuaskan bagi Sunan Ampel dan semua orang. Apabila menyapu lantai masjid sangat bersih dan segar, sehingga yang sujud tanpa sajadah tidak merasa ada debunya.
            Setelah Mbah Shalih wafat dan dimakamkan di muka masjid, maka baru terasa oleh Sunan Ampel dan orang banyak, bahwa tidak seoranpun yang mampu menyapu lantai masjid sebersih sapuan Mbah Shalih, lebih-lebih para santri tidak bisa secara rutin menyapunya. Akibatnya keadaan masjid sering nampak kotor.
            Melihat hal yang demikian, maka terucaplah dari lisan Sunan Ampel “Seandainya Mbah Shalih masih hidup, tentulah masjid ini menjadi bersih kembali”. Dan semua orang pun merasa keheranan setelah melihat Mbah Shalih hidup kembali.
            Setelah beberapa bulan kemudian Mbah Shalih wafat lagi dan dimakamkan sebelah timur dimakamnya yang  pertama. Sepeninggalannya Mbah Shalih yang kedua kalinya ini otomatis keadaan masjid kotor lagi. Atas kekaromahan Sunan Ampel yang mengucapkan kata-kata sebagaimana dulu, maka dengan izin Allah Mbah Shalih hidup lagi untuk kedua kalinya.
            Demikianlah kejadiannya Mbah Shalih sampai beberapa kali wafat dan hidup kembali. Setelah kuburan Mbah Shalih genap delapan buah, Sunan Ampel telah tiba-tiba saat kewafatannya, setelah beberapa sepeninggal Sunan Ampel, Mbah Shalih pun wafat kembali sehingga kuburan Mbah Shalih sebanyak sembilan kuburan dan kuburan yang terakhir berada di ujung timur.
            Demikianlah kisah Mbah Shalih dan selanjutnya marilah kita melihat riwayat Mbah Son Haji juga sebagai murid Sunan Ampel adalah Mbah Son Haji yang lebih terkenal dengan sebutan Mbah Bolong mempunyai kisah dan keistimewaan tersendiri.
            Telah diriwayatkan setelah pembangunan masjid Agung, Sunan Ampel, Mbah Son Haji mendapatkan tugas untuk mengatur letak pengimaman masjid itu. Setelah pembangunan masjid selesai, banyak orang yang meragukan hasil kerja Mbah Son Haji.
            Orang itu segera melihat ke lubang tersebut, ternyata dari lubang itu mereka dapat melihat ka’bah yang berada di Mekah. Sejak itulah mereka tidak berani meremehkan dan mengerti bahwa Mbah Son Haji yaitu seorang yang mempunyai kekaromahan dan kemudian mendapat sebutan “Mbah Bolong”.